spot_img
BerandaNewsMasih Banyak Faktor Terhadap Pengaruh Adopsi 5G di Indonesia

Masih Banyak Faktor Terhadap Pengaruh Adopsi 5G di Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – 5G sudah hadir di Indonesia, tetapi banyak perusahaan yang belum terbiasa dengan manfaat 5G. Padahal peran 5G sebagai alat untuk mencapai transformasi digital, akan lebih mudah bagi industri untuk mengeksplorasi bagaimana 5G.

Faktor utama yang mempengaruhi adopsi 5G di Indonesia saat ini adalah konektivitas, keterampilan pekerja, pendidikan dan regulasi. Karena beradsarkan hasil riset STL, merger impact benar- benar tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Untuk dari sisi Konektivitas, roll-out (peluncuran) terhadap konektivitas 5G juga baru, kurangnya cakupan yang konsisten terutama di daerah terpencil yang banyak kawasan industri berada itulah yang menghambat adopsi edge.

Dalam beberapa kasus, adopsi 4G saat ini bahkan bukan pilihan yang bisa diandalkan karena banyak pengguna yang menganggap terlalu mahal untuk beberapa proyek.

Pada acara Selular Indonesia 5G Conference siang tadi (27/10/2021), Teguh Prasetya, ketua umum ASIOTI & Dirut Alita mengungkapkan bahwa kekurangan keterampilan dan pengetahuan untuk mengimplementasi terutama pemanfaatan jaringan, layanan, aplikasi berbasis 5G masih rendah. Contohnya, masih terbatas sumber daya untuk bisa membuat aplikasi AR.

“Kita melihat juga skill dan pengetahuan untuk implementasi memanfaatkan jaringan 5G, Layanan 5G, aplikasi 5G tuh masih dibawah banget, siapa sih yang tau aplikasi untuk bikin AR basisnya rilis versi 15 atau 16, walaupun ada juga kita dikit banget,” ucap Teguh.

Apalagi Indonesia sempat terkena dampak Covid-19, yang mengharuskan kebutuhan untuk lebih banyak operasi remote (jarak jauh) semakin masive. Namun  beberapa penyebaran Use Cases “bagus untuk dimiliki” telah ditunda.

Kemudian kompetisi dan tekanan pasar, seperti smartphone Realme yang sudah siap untuk konektivitas 5G namun jaringannya belum ada, seperti kata Teguh. Karena jika beberapa vendor sudah menyiapkan konektivitas 5G otomatis para pengguna akan menanyakan kapan layanan 5G di Indonesia sudah tersedia.

“Kita lihat teman-teman dari Realme sudah ngomong ini perangkat 5G saya sudah ready, jaringannya mana, nah ini kan tuntuan market jika device sudah tersebar pasti para user nanya.”

Hal-hal seperti ini dipengaruhi regulasi untuk 5G yang belum tuntas, terutama regulasi spektrum seperti Milimeter Wave, spektrum private network, spektrum 700, maka dari itu ini menimbulkan ketidakpastian dari investasi secara menyeluruh.

Artikel Terbaru

| RistaBola.com Bola And News
spot_img
BerandaNewsMasih Banyak Faktor Terhadap Pengaruh Adopsi 5G di Indonesia

Masih Banyak Faktor Terhadap Pengaruh Adopsi 5G di Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – 5G sudah hadir di Indonesia, tetapi banyak perusahaan yang belum terbiasa dengan manfaat 5G. Padahal peran 5G sebagai alat untuk mencapai transformasi digital, akan lebih mudah bagi industri untuk mengeksplorasi bagaimana 5G.

Faktor utama yang mempengaruhi adopsi 5G di Indonesia saat ini adalah konektivitas, keterampilan pekerja, pendidikan dan regulasi. Karena beradsarkan hasil riset STL, merger impact benar- benar tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Untuk dari sisi Konektivitas, roll-out (peluncuran) terhadap konektivitas 5G juga baru, kurangnya cakupan yang konsisten terutama di daerah terpencil yang banyak kawasan industri berada itulah yang menghambat adopsi edge.

Dalam beberapa kasus, adopsi 4G saat ini bahkan bukan pilihan yang bisa diandalkan karena banyak pengguna yang menganggap terlalu mahal untuk beberapa proyek.

Pada acara Selular Indonesia 5G Conference siang tadi (27/10/2021), Teguh Prasetya, ketua umum ASIOTI & Dirut Alita mengungkapkan bahwa kekurangan keterampilan dan pengetahuan untuk mengimplementasi terutama pemanfaatan jaringan, layanan, aplikasi berbasis 5G masih rendah. Contohnya, masih terbatas sumber daya untuk bisa membuat aplikasi AR.

“Kita melihat juga skill dan pengetahuan untuk implementasi memanfaatkan jaringan 5G, Layanan 5G, aplikasi 5G tuh masih dibawah banget, siapa sih yang tau aplikasi untuk bikin AR basisnya rilis versi 15 atau 16, walaupun ada juga kita dikit banget,” ucap Teguh.

Apalagi Indonesia sempat terkena dampak Covid-19, yang mengharuskan kebutuhan untuk lebih banyak operasi remote (jarak jauh) semakin masive. Namun  beberapa penyebaran Use Cases “bagus untuk dimiliki” telah ditunda.

Kemudian kompetisi dan tekanan pasar, seperti smartphone Realme yang sudah siap untuk konektivitas 5G namun jaringannya belum ada, seperti kata Teguh. Karena jika beberapa vendor sudah menyiapkan konektivitas 5G otomatis para pengguna akan menanyakan kapan layanan 5G di Indonesia sudah tersedia.

“Kita lihat teman-teman dari Realme sudah ngomong ini perangkat 5G saya sudah ready, jaringannya mana, nah ini kan tuntuan market jika device sudah tersebar pasti para user nanya.”

Hal-hal seperti ini dipengaruhi regulasi untuk 5G yang belum tuntas, terutama regulasi spektrum seperti Milimeter Wave, spektrum private network, spektrum 700, maka dari itu ini menimbulkan ketidakpastian dari investasi secara menyeluruh.

Artikel Terbaru

- Update Masih Banyak Faktor Terhadap Pengaruh Adopsi 5G di Indonesia
spot_img
BerandaNewsMasih Banyak Faktor Terhadap Pengaruh Adopsi 5G di Indonesia

Masih Banyak Faktor Terhadap Pengaruh Adopsi 5G di Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – 5G sudah hadir di Indonesia, tetapi banyak perusahaan yang belum terbiasa dengan manfaat 5G. Padahal peran 5G sebagai alat untuk mencapai transformasi digital, akan lebih mudah bagi industri untuk mengeksplorasi bagaimana 5G.

Faktor utama yang mempengaruhi adopsi 5G di Indonesia saat ini adalah konektivitas, keterampilan pekerja, pendidikan dan regulasi. Karena beradsarkan hasil riset STL, merger impact benar- benar tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Untuk dari sisi Konektivitas, roll-out (peluncuran) terhadap konektivitas 5G juga baru, kurangnya cakupan yang konsisten terutama di daerah terpencil yang banyak kawasan industri berada itulah yang menghambat adopsi edge.

Dalam beberapa kasus, adopsi 4G saat ini bahkan bukan pilihan yang bisa diandalkan karena banyak pengguna yang menganggap terlalu mahal untuk beberapa proyek.

Pada acara Selular Indonesia 5G Conference siang tadi (27/10/2021), Teguh Prasetya, ketua umum ASIOTI & Dirut Alita mengungkapkan bahwa kekurangan keterampilan dan pengetahuan untuk mengimplementasi terutama pemanfaatan jaringan, layanan, aplikasi berbasis 5G masih rendah. Contohnya, masih terbatas sumber daya untuk bisa membuat aplikasi AR.

“Kita melihat juga skill dan pengetahuan untuk implementasi memanfaatkan jaringan 5G, Layanan 5G, aplikasi 5G tuh masih dibawah banget, siapa sih yang tau aplikasi untuk bikin AR basisnya rilis versi 15 atau 16, walaupun ada juga kita dikit banget,” ucap Teguh.

Apalagi Indonesia sempat terkena dampak Covid-19, yang mengharuskan kebutuhan untuk lebih banyak operasi remote (jarak jauh) semakin masive. Namun  beberapa penyebaran Use Cases “bagus untuk dimiliki” telah ditunda.

Kemudian kompetisi dan tekanan pasar, seperti smartphone Realme yang sudah siap untuk konektivitas 5G namun jaringannya belum ada, seperti kata Teguh. Karena jika beberapa vendor sudah menyiapkan konektivitas 5G otomatis para pengguna akan menanyakan kapan layanan 5G di Indonesia sudah tersedia.

“Kita lihat teman-teman dari Realme sudah ngomong ini perangkat 5G saya sudah ready, jaringannya mana, nah ini kan tuntuan market jika device sudah tersebar pasti para user nanya.”

Hal-hal seperti ini dipengaruhi regulasi untuk 5G yang belum tuntas, terutama regulasi spektrum seperti Milimeter Wave, spektrum private network, spektrum 700, maka dari itu ini menimbulkan ketidakpastian dari investasi secara menyeluruh.

Artikel Terbaru

, mungkin Masih Banyak Faktor Terhadap Pengaruh Adopsi 5G di Indonesia
<