BerandaNewsTelcoTren Merger Operator Seluler, Pakar Ingatkan Risiko Duopoli

Tren Merger Operator Seluler, Pakar Ingatkan Risiko Duopoli

-

Jakarta, Selular.ID – Tren merger operator seluler disamping berdampak bagus bagi industry telekomunikasi juga menyimpan catatan penting, yang perlu juga diwaspadai kedepannya.

Ian Joseph Matheus Edward, Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia ITB menjelaskan jumlah operator yang ideal adalah 4,  dengan alasan jika jumlah operator semakin kecil akan menciptakan usaha yang tidak bagus. “jangan sampai ada satu operator nanti yang menguasai hingga 50 persen, atau gabungan hingga 75 persen,” terang Ian kepada Selular, Kamis (14/10).

“Sebenarnya ini yang perlu diwaspadai, jika jumlah operator 3. Jika terjadi perang harga dan salah satunya ambruk akibat kesalahan manajemen, bisa mengakibatkan duopoli lagi, atau 3 operator yang seakan duopoli. Ini yang berbahaya yang dapat mengurangi manfaat dari telekomunikasi ke masyarakat,” sambungnya.

Sekedari informasi, duopoli adalah struktur pasar di mana hanya terdiri dari dua penjual (produsen). Duopoli adalah bentuk oligopoli paling dasar, pasar yang didominasi oleh sejumlah kecil perusahaan. Duopoli dapat memiliki dampak yang sama di pasar seperti monopoli jika kedua pemain berkolusi pada harga atau output.

Selain itu Dosen ITB ini juga menekankan ujung dari merger sebenarnya untuk menyehatkan industri, sedangkan poin utama telekomunikasi merupakan  manfaat yang besar bagi masyarakat.

“Oleh karena itu merger operator harus mempertimbangkan hal tersebut. Merger akan mengakibatkan perusahaan mengeluarkan pajak dan kewajiban lain menjadi satu kali, dibandingkan kerjasama perangkat aktif yang mengakibatkan double pajak/kewajiban Universal Service Obligation (USO) dan lain sebagainya. Sedangkan syarat merger dua atau lebih operator seharusnya pun tidak mengurangi kewajiban terdahulu khususnya manfaat bagi masyarakat,” papar Ian.

Baca juga :  Ini Alasan Merger Operator Seluler Tidak Terbentur Aturan Persaingan Usaha

Sementara itu, pada kesempatan berbeda DR Sigit Puspito Wigati Jarot, Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional (Infratelnas) Mastel, memiliki pandangan jika merger perlu ada kajian yang jauh lebih cermat.

“Jika merujuk pada pengalaman di berbagai negara, 2-3 operator seluler dinilai yang lebih baik, dari segi pembagian frekuensi, persaingan usaha, mungkin juga kewajiban penggelaran dan lain-lain. Kalau kurang dari 3, bisa kembali ke era duopoli. Tapi selama masih 3-4 operator, kemungkinan akan dampak positifnya bagi penyehatan industri akan lebih besar. Demikian juga efek penghematan infrastruktur, efisiensi frekuensi dan lain-lain,” papar Ian.

Dan mengerucutnya jumlah operator ke jumlah yang ideal itu bermanfaat besar karena meredam potensi persaingan tidak sehat. Misal predatory pricing justru lebih besar potensi terjadi ketika jumlah terlalu banyak.

Baca juga :  Kominfo Tetapkan TKDN Perangkat 4G dan 5G Naik 35 Persen

“Sehingga perang harga untuk dapat bertahan hidup dengan jumlah operator seluler pasca merger, kemungkinan akan lebih rasional, kemungkinan perang harga akan jauh lebih kecil. Juga masih ada kewajiban untuk mematuhi prinsip persaingan usaha yang sehat, yang diatur oleh UU tinggal penegakkannya saja,” tandasnya.

Sebelumnya merger Indosat Ooredoo dan Tri Indonesia yang berlangsung sukses tampaknya menjadi inspirasi operator lain untuk melakukan hal serupa. Kabar terbaru Smartfren dan XL Axiata sedang dalam pembahasan untuk menjajaki upaya tersebut.

Saat ini induk usaha Smartfren-XL Axiata yaitu Axiata Group asal Malaysia dan Sinar Mas Group, sedang menjajaki opsi merger operasional, menurut orang-orang yang mengetahui aksi korporasi tersebut.

Aksi merger tersebut sejauh ini masih bersifat tertutup dan belum ada informasi detail dari aksi kedua perusahaan tersebut sejauh ini.

Artikel Terbaru

| RistaBola.com Bola And News
BerandaNewsTelcoTren Merger Operator Seluler, Pakar Ingatkan Risiko Duopoli

Tren Merger Operator Seluler, Pakar Ingatkan Risiko Duopoli

-

Jakarta, Selular.ID – Tren merger operator seluler disamping berdampak bagus bagi industry telekomunikasi juga menyimpan catatan penting, yang perlu juga diwaspadai kedepannya.

Ian Joseph Matheus Edward, Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia ITB menjelaskan jumlah operator yang ideal adalah 4,  dengan alasan jika jumlah operator semakin kecil akan menciptakan usaha yang tidak bagus. “jangan sampai ada satu operator nanti yang menguasai hingga 50 persen, atau gabungan hingga 75 persen,” terang Ian kepada Selular, Kamis (14/10).

“Sebenarnya ini yang perlu diwaspadai, jika jumlah operator 3. Jika terjadi perang harga dan salah satunya ambruk akibat kesalahan manajemen, bisa mengakibatkan duopoli lagi, atau 3 operator yang seakan duopoli. Ini yang berbahaya yang dapat mengurangi manfaat dari telekomunikasi ke masyarakat,” sambungnya.

Sekedari informasi, duopoli adalah struktur pasar di mana hanya terdiri dari dua penjual (produsen). Duopoli adalah bentuk oligopoli paling dasar, pasar yang didominasi oleh sejumlah kecil perusahaan. Duopoli dapat memiliki dampak yang sama di pasar seperti monopoli jika kedua pemain berkolusi pada harga atau output.

Selain itu Dosen ITB ini juga menekankan ujung dari merger sebenarnya untuk menyehatkan industri, sedangkan poin utama telekomunikasi merupakan  manfaat yang besar bagi masyarakat.

“Oleh karena itu merger operator harus mempertimbangkan hal tersebut. Merger akan mengakibatkan perusahaan mengeluarkan pajak dan kewajiban lain menjadi satu kali, dibandingkan kerjasama perangkat aktif yang mengakibatkan double pajak/kewajiban Universal Service Obligation (USO) dan lain sebagainya. Sedangkan syarat merger dua atau lebih operator seharusnya pun tidak mengurangi kewajiban terdahulu khususnya manfaat bagi masyarakat,” papar Ian.

Baca juga :  Ini Alasan Merger Operator Seluler Tidak Terbentur Aturan Persaingan Usaha

Sementara itu, pada kesempatan berbeda DR Sigit Puspito Wigati Jarot, Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional (Infratelnas) Mastel, memiliki pandangan jika merger perlu ada kajian yang jauh lebih cermat.

“Jika merujuk pada pengalaman di berbagai negara, 2-3 operator seluler dinilai yang lebih baik, dari segi pembagian frekuensi, persaingan usaha, mungkin juga kewajiban penggelaran dan lain-lain. Kalau kurang dari 3, bisa kembali ke era duopoli. Tapi selama masih 3-4 operator, kemungkinan akan dampak positifnya bagi penyehatan industri akan lebih besar. Demikian juga efek penghematan infrastruktur, efisiensi frekuensi dan lain-lain,” papar Ian.

Dan mengerucutnya jumlah operator ke jumlah yang ideal itu bermanfaat besar karena meredam potensi persaingan tidak sehat. Misal predatory pricing justru lebih besar potensi terjadi ketika jumlah terlalu banyak.

Baca juga :  Kominfo Tetapkan TKDN Perangkat 4G dan 5G Naik 35 Persen

“Sehingga perang harga untuk dapat bertahan hidup dengan jumlah operator seluler pasca merger, kemungkinan akan lebih rasional, kemungkinan perang harga akan jauh lebih kecil. Juga masih ada kewajiban untuk mematuhi prinsip persaingan usaha yang sehat, yang diatur oleh UU tinggal penegakkannya saja,” tandasnya.

Sebelumnya merger Indosat Ooredoo dan Tri Indonesia yang berlangsung sukses tampaknya menjadi inspirasi operator lain untuk melakukan hal serupa. Kabar terbaru Smartfren dan XL Axiata sedang dalam pembahasan untuk menjajaki upaya tersebut.

Saat ini induk usaha Smartfren-XL Axiata yaitu Axiata Group asal Malaysia dan Sinar Mas Group, sedang menjajaki opsi merger operasional, menurut orang-orang yang mengetahui aksi korporasi tersebut.

Aksi merger tersebut sejauh ini masih bersifat tertutup dan belum ada informasi detail dari aksi kedua perusahaan tersebut sejauh ini.

Artikel Terbaru

- Update Tren Merger Operator Seluler, Pakar Ingatkan Resiko Duopoli
BerandaNewsTelcoTren Merger Operator Seluler, Pakar Ingatkan Risiko Duopoli

Tren Merger Operator Seluler, Pakar Ingatkan Risiko Duopoli

-

Jakarta, Selular.ID – Tren merger operator seluler disamping berdampak bagus bagi industry telekomunikasi juga menyimpan catatan penting, yang perlu juga diwaspadai kedepannya.

Ian Joseph Matheus Edward, Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia ITB menjelaskan jumlah operator yang ideal adalah 4,  dengan alasan jika jumlah operator semakin kecil akan menciptakan usaha yang tidak bagus. “jangan sampai ada satu operator nanti yang menguasai hingga 50 persen, atau gabungan hingga 75 persen,” terang Ian kepada Selular, Kamis (14/10).

“Sebenarnya ini yang perlu diwaspadai, jika jumlah operator 3. Jika terjadi perang harga dan salah satunya ambruk akibat kesalahan manajemen, bisa mengakibatkan duopoli lagi, atau 3 operator yang seakan duopoli. Ini yang berbahaya yang dapat mengurangi manfaat dari telekomunikasi ke masyarakat,” sambungnya.

Sekedari informasi, duopoli adalah struktur pasar di mana hanya terdiri dari dua penjual (produsen). Duopoli adalah bentuk oligopoli paling dasar, pasar yang didominasi oleh sejumlah kecil perusahaan. Duopoli dapat memiliki dampak yang sama di pasar seperti monopoli jika kedua pemain berkolusi pada harga atau output.

Selain itu Dosen ITB ini juga menekankan ujung dari merger sebenarnya untuk menyehatkan industri, sedangkan poin utama telekomunikasi merupakan  manfaat yang besar bagi masyarakat.

“Oleh karena itu merger operator harus mempertimbangkan hal tersebut. Merger akan mengakibatkan perusahaan mengeluarkan pajak dan kewajiban lain menjadi satu kali, dibandingkan kerjasama perangkat aktif yang mengakibatkan double pajak/kewajiban Universal Service Obligation (USO) dan lain sebagainya. Sedangkan syarat merger dua atau lebih operator seharusnya pun tidak mengurangi kewajiban terdahulu khususnya manfaat bagi masyarakat,” papar Ian.

Baca juga :  Ini Alasan Merger Operator Seluler Tidak Terbentur Aturan Persaingan Usaha

Sementara itu, pada kesempatan berbeda DR Sigit Puspito Wigati Jarot, Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional (Infratelnas) Mastel, memiliki pandangan jika merger perlu ada kajian yang jauh lebih cermat.

“Jika merujuk pada pengalaman di berbagai negara, 2-3 operator seluler dinilai yang lebih baik, dari segi pembagian frekuensi, persaingan usaha, mungkin juga kewajiban penggelaran dan lain-lain. Kalau kurang dari 3, bisa kembali ke era duopoli. Tapi selama masih 3-4 operator, kemungkinan akan dampak positifnya bagi penyehatan industri akan lebih besar. Demikian juga efek penghematan infrastruktur, efisiensi frekuensi dan lain-lain,” papar Ian.

Dan mengerucutnya jumlah operator ke jumlah yang ideal itu bermanfaat besar karena meredam potensi persaingan tidak sehat. Misal predatory pricing justru lebih besar potensi terjadi ketika jumlah terlalu banyak.

Baca juga :  Kominfo Tetapkan TKDN Perangkat 4G dan 5G Naik 35 Persen

“Sehingga perang harga untuk dapat bertahan hidup dengan jumlah operator seluler pasca merger, kemungkinan akan lebih rasional, kemungkinan perang harga akan jauh lebih kecil. Juga masih ada kewajiban untuk mematuhi prinsip persaingan usaha yang sehat, yang diatur oleh UU tinggal penegakkannya saja,” tandasnya.

Sebelumnya merger Indosat Ooredoo dan Tri Indonesia yang berlangsung sukses tampaknya menjadi inspirasi operator lain untuk melakukan hal serupa. Kabar terbaru Smartfren dan XL Axiata sedang dalam pembahasan untuk menjajaki upaya tersebut.

Saat ini induk usaha Smartfren-XL Axiata yaitu Axiata Group asal Malaysia dan Sinar Mas Group, sedang menjajaki opsi merger operasional, menurut orang-orang yang mengetahui aksi korporasi tersebut.

Aksi merger tersebut sejauh ini masih bersifat tertutup dan belum ada informasi detail dari aksi kedua perusahaan tersebut sejauh ini.

Artikel Terbaru

, mungkin Tren Merger Operator Seluler, Pakar Ingatkan Resiko Duopoli